https://www.youtube.com/@mj_cinta_sunnah

Rabu, 17 November 2021

Salam

 

Ucapan salam yang paling pendek, namun memenuhi rukun sholat adalah dengan mengucapkan (السَّلَامُ عَلَيْكُم) ‘Assalaamu’alaikum’.

Adapun ucapan salam yang sempurna adalah ucapan (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ)

Berikut ini bacaan-bacaan salam :

Pertama:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

“Semoga keselamatan tercurahkan atas kalian”.  Dibaca sekali ketika menoleh ke kanan.

Kedua:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

“Semoga keselamatan serta rahmat Allah tercurahkan atas kalian.”  Dibaca ketika menoleh ke kanan dan ke kiri.

Ketiga:

Menoleh ke kanan membaca:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Dan ke kiri membaca:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Dalilnya adalah hadits Wasi’ bin Habban

Keempat:

Menoleh ke kanan membaca:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dan ke kiri membaca:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Dalilnya adalah hadits Alqomah Ibnu Wail dari ayahnya.

Kelima:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

“Semoga Keselamatan, Rahmat Allah, serta Keberkahan tercurahkan atas kalian”.

Dibaca ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Dalilnya adalah hadits dari Abu Ubaidah.


Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Doa sebelum Salam

 

Pertama

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari azab neraka, dari fitnah kehidupan dan sesudah mati, dan dari fitnah Al-Masih Dajjal”.

Kedua

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak berbuat zalim terhadap diriku sendiri. Tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau. Karena itu (Ya Allah), ampunilah diriku dengan ampunan-Mu dan kasih-sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ketiga

اللهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا

“Ya Allah, hisablah (lakukan perhitungan) pada diriku dengan perhitungan (hisab) yang mudah”.

Keempat

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ بَعْدُ

“Ya Allah sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejahatan yang pernah aku perbuat dan dari kejahatan yang belum aku perbuat”.

Kelima

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, Yang Maha Esa lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk, Yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, agar engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Keenam

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا  حَيُّ يَا قَيُّومُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya”.

Ketujuh

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ , وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ , أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي , وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي , اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ , وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ , وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى , وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ , وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ , وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ , وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ , وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ , وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ , فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ , وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ , اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ , وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan kalimat yang haq di waktu ridha atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa sederhana dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak akan habis dan aku minta kepada-Mu agar diberi penyejuk mata yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu, agar aku dapat ridha setelah qadha-Mu. Aku mohon kepada-Mu, kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yang memperoleh bimbingan dari-Mu”.

Kedelapan

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Yaa Allâh, ampunilah dosaku yang telah aku lakukan dan yang telah aku tinggalkan, yang aku rahasiakan dan yang aku lakukan dengan terang-terangan, serta segala dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau adalah al Muqaddim (Dzat Yang memajukan orang yang Engkau kehendaki) dan Engkau adalah al Muakhkhir (Yang memundurkan orang yang Engkau kehendaki). Tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau”.

Kesembilan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِمَّا سَأَلَكَ مِنْهُ مَحَمَّدٌ وَأَعُوذُ بِكَ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ لِي رُشْدًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu segala kebaikan, baik yang segera atau akan datang, yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan, baik yang segera atau akan datang, yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui. Aku meminta surga kepada-Mu serta segala perkara yang mendekatkan kepadanya, baik dari ucapan atau perbuatan. Dan aku berlidung kepada-Mu dari neraka serta segala perkara yang mendekatkan kepadanya, baik dari ucapan atau perbuatan. Aku meminta kepada-Mu sebagaimana apa yang diminta oleh Muhammad. Dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang berlindung darinya Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam. Ya Allah apa yang Engkau putuskan kepadaku dari suatu perkara, maka jadikanlah akhirnya baik”.

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Shalawat

Shalawat disunnahkan dibaca setelah membaca dzikir tasyahhud akhir ketika duduk tasyahhud akhir

Pertama:
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shollaita ‘ala Ibroohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaka hamidun majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohimm innaka hamidun majiid"

artinya: Ya Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana tercurah pada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, semoga berkah tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana tercurah pada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Kedua:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ahli baitihii, wa ‘ala azwaajihii wa dzurriyatihii, kamaa shallaita ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid. Wa baarik ‘ala muhammad wa ‘ala ahli baitihii, wa ‘ala azwaajihii wa dzurriyatihii, kamaa baarakta ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid.

artinya: Ya Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad dan keluarganya, istri-istrinys, serta keturunannya, sebagaimana tercurah pada Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, semoga berkah tercurah kepada Muhammad dan keluarganya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana tercurah pada Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ketiga:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wa rosuulika kamaa shollaita ‘alaa aali ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim.

artinya: Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad hambaMu dan RasulMu, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim.

Keempat:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shol laita ‘alaa ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa baarokta ‘ala ibroohiim innaka hamiidum majiid.

artinya: Ya Allah azza wa jalla, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan isteri-isteri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkahi.

Kelima:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘ala muhammad an-nabiyyil ummiyi wa ‘ala aali muhammad, kamaa shallaita ‘ala aali ibrahim. Wa baarik ‘ala muhammad an-nabiyyil ummiyi wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala aali ibrahim, fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

artinya: Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad yang ummi (tidak membaca dan tidak menulis) dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.Dan berkahilah Muhammad Nabi yang ummi (tidak membaca dan tidak menulis) dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

Keenam:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali, wa baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali, kamaa baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohimm fil ‘aalamiina innaka hamidun majiid"

artinya: Ya Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan semoga berkah tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana tercurah pada Ibrahim dan keluarga Ibrahim di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. 

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Tasyahhud

 

Pertama (Tasyahhud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

التَّحِيَاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Segala ucapan selamat, salawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Mudah-mudahan salawat serta salam terlimpahkan kepadamu wahai engkau wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan salawat dan salam terlimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya”. 

Catatan : Namun menurut Ibnu Mas’ud setelah Nabi meninggal maka lafal tasyahhud Assalamu 'alaika ayyuha an-nabiyyu diganti menjadi Assalamu 'ala An-Nabi.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Sakhbarah Abu Ma’mar berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata:

يَقُولُ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ، التَّشَهُّدَ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَهُوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا: السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah mengajarkanku doa tasyahhud sebagaimana beliau mengajarkanku surat dalam Al-Qur'an, sedangkan telapak tanganku berada diantara kedua telapak tangan beliau: Attahiyyatu lillah was shalawatu wat thayyibaat, Assalamu 'alaika ayyuha an-nabiyyu wa rahamatullahi wa barakaatuh, As-Salaamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis Shalihin. Asyhadu an laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Saat itu beliau berada diantara kami. Namun, ketika beliau meninggal dunia, maka kami mengucapkan: Assalamu 'ala An-Nabi (Semoga Keselamatan senantiasa tercurahkan kepada Nabi).

Di dalam jalur riwayat hadits ini disebutkan bahwa terdapat perubahan redaksi bacaan tasyahhud yang diucapkan di dalam sholat pada zaman Nabi yaitu dengan mengucapkan As-salamu ‘alaika  (Semoga keselamatan atasmu) yang ditujukan kepada Nabi dengan kata ganti orang kedua. Namun, setelah beliau wafat, redaksi bacaan tersebut dirubah menjadi As-salaamu ‘ala An-Nabiy (Semoga kesalamatan atas Nabi)  yang ditujukan kepada Nabi namun dengan kata ganti orang ketiga. Al-Hafidz Ibnu Hajar menuturkan bahwa besar kemungkinan tambahan tersebut dari Ibnu Mas’ud, yaitu berkata setelah membawakan lafdz tasyahhud: (فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ) ketika beliau wafat kami mengucapkan: As-salamu ‘alan nabiy.

Dengan demikian maka boleh mengucapkan tasyahhud dengan Assalamu 'alaika ayyuha an-nabiyyu  dan juga boleh dengan Assalamu 'ala An-Nabi

Kedua (Tasyahhud Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhu)

اَلتَّحِيَاتُ المُبَارَكَاتُ، الصَلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَينَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِين، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

“Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Mudah-mudahan shalawat dan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan shalawat dan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah.

Ketiga (Tasyahhud Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

اَلتَّحِيَاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لله السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا  النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أَن مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُوْلُهُ

“Segala penghormatan, kebaikan dan shalawat hanya milik Allah. Mudah-mudahan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya”.

Keempat (Tasyahhud Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa)

بِسْمِ الله التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ للهِ، الزَّاكِيَاتُ للهِ، السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ الله وَبرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَشَهِدْتُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله

Dengan nama Allah, segala penghormatan dan shalawat hanya milik Allah, amal-amal shalih hanya bagi Allah. Mudah-mudahan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan-Nya.

Kelima (Tasyahhud Umar bin Khottob radhiyallahu anhu)

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ، الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Segala penghormatan dan amal-amal shalih hanya bagi Allah.  Segala kebaikan dan shalawat hanya milik Allah. Mudah-mudahan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Keenam (Tasyahud Aisyah radhiyallahu anhaa)
التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Segala penghormatan, kebaikan, shalawat, dan amal shalih hanya bagi Allah.  Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Keselamatan atas kalian.

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Duduk diantara dua sujud

 

Pertama
رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي

“Ya Allah ampuni aku, Ya Allah ampuni aku”.

Kedua
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْزُقْنِي، وَارْفَعْنِي

“Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, berilah rezeki dan tinggikanlah derajatku”.

Ketiga
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي

“Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah rezeki”.

Keempat
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي

“Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku”. [(6¹)](deeplink://note61)

Kelima
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي

“Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, berikanlah aku petunjuk, selamatkanlah aku, dan berilah rezeki”.

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Doa Sujud

 

Berikut doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika sujud, yaitu setelah membaca dzikir sujud di atas.

Pertama :
اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

‘Allahumma ighfirlii dzanbii kullahu, diqqahu, wa jillahu, wa awwalahu wa aakhirahu, wa ‘alaaniyyatahu wa sirrahu’.

“Ya Allah, ampunilah untukku dosaku semuanya, baik yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”.

Kedua :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ

‘Allahumma ighfirlii maa asrartu wa maa a’lantu’

“Ya Allah, ampunilah dosaku yang tersembunyi dan terang-terangan”.

Ketiga
ربِّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ

“Wahai Rabb-ku, ampunilah aku, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku nyatakan”.

Ketiga
ربِّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ

“Wahai Rabb-ku, ampunilah aku, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku nyatakan”.

Keempat :
اللهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ شِمَالِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا

‘Allahumma ij’al fii qalbii nuuraa, wa fii sam’i nuura, wa fii basharii nuuraa, wa ‘an yamiinii nuuraa, wa ‘an syimaalii nuuraa, wa amaamii nuuraa, wa khalfii nuuraa, wa fauqii nuuraa, wa tahtii nuuraa, waj’al lii nuuraa’

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di dalam mataku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, dan jadikanlah cahaya untukku”. [(55](deeplink://note55)

Keempat :
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

‘Allahumma innii a’udzu bi ridhaaka min sakhatika, wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’udzubika minka, laa uhshi tsanaa’an ‘alaika kamaa atsnaita ‘ala nafsika’

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri”. [(56](deeplink://note56)

“Ya Allah, Aku berlindung diri kepada ridhaMu dari murkaMu, dengan keselamatanMu dari siksaMu. Dan aku berlindung diri kepadaMu dariMu, Aku tidak mampu menghitung semua pujian untukMu, sebagaimana Engkau memuji DzatMu”. [(57](deeplink://note57)

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Sujud

 

Pertama
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi”.

Kedua
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi dan pujian untuk-Nya)”. Ini dibaca tiga kali.

Ketiga
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

“Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -yaitu Jibril-.”

Keempat
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan kami, Segala puji bagi Engkau. Ya Allah, ampunilah aku”.

Kelima
اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Telah sujud wajahku kepada Dia yang telah menciptakannya, membentuknya, memisahkan pendengaran dan penglihatannya, Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik

Keenam
اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، وَأَنْتَ رَبِّي، سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku bersujud, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku berserah diri. (Engkau Rabb-ku). Bersujud wajahku kepada Dzat yang menciptakan dan membentuknya, lalu Dia baguskan rupanya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta.

Ketujuh
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Maha Suci Engkau, segala puji bagi Engkau. Tidak ada Tuhan selain Engkau”. 

Kedelapan
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau”.

Kesembilan
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Maha Suci Dia yang memiliki kekuasaan, kerajaan, kebesaran dan keagungan”.

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

I'tidal

 

Pertama :
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد
Rabbanaa lakal hamdu (Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji).

Kedua:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد
Rabbanaa wa lakal hamdu (Wahai Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji).

Ketiga:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد
Allahumma rabbanaa lakal hamdu (Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji). [(3¹)](deeplink://note31)

Keempat:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد
Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu (Ya Allah Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji).

Kelima:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد
Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du.
(Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya).

Keenam:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَد
Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.
(Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya, dan tidak bermanfaat bagi-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).

Ketujuh:
اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ، وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد
Allahumma rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du.
(Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya).

Kedelapan:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Allahumma rabbanaaa wa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa maa bainahumaa wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-i wal majdi ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa ‘abdun, allahumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.
(Ya Allah Rabb kami,dan bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh yang ada diantara langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. (Ucapan ini) yang paling pantas diucapkan seorang hamba. Dan semua kami adalah hamba-Mu semata. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).

Kesembilan:
اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ، وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Allahumma rabbanaaa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa maa bainahumaa wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-I wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.
(Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh yang ada diantara langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).

Kesepuluh:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Rabbanaaa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-I wal majdi ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun, allahumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu
(Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. (Ucapan ini) yang paling pantas diucapkan seorang hamba. Dan semua kami adalah hamba-Mu semata. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).

Kesebelas:
لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْدُ
Li rabbiyal hamdu… Li rabbiyal hamdu. (Pujian hanya untuk Rabbku, pujian hanya untuk Rabbku).

Kedua belas:
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.
(Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya).

Ketiga belas:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ جَزِيلًا
Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi jaziilan
(Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi, yang banyak di dalamnya).

Keempat belas:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ؛ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ مُبَاركَاً عَلَيْهِ؛ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi, mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhoo.
(Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya, yang diberkahi atasnya sebagaimana yang dicintai dan diridhoi oleh Rabb kami).

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

RUKU'

 

Pertama
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيم

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung.”

Kedua
(سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِه (ثلاث مرات

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung dan pujian untuk-Nya.” Ini dibaca tiga kali.

Ketiga
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوح

“Maha Suci, Maha Qudus, Rabb-nya para malaikat dan ar-Ruh’ ( yaitu Jibril)”.

Keempat
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku”.

Kelima:
اللهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي

“Ya Allah, untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, untuk-Mu aku berserah diri, kutundukkan kepada-Mu pendengaranku dan penglihatanku,  pikiranku, tulang-tulangku dan urat syarafku”.

Keenam
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، أَنْتَ رَبِّي، خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي، وَدَمِي وَلَحْمِي، وَعَظْمِي وَعَصَبِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالِمِين

“Ya Allah, untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, untuk-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku bergantung, Engkau adalah Rabb-ku, kutundukkan kepada-Mu pendengaranku dan penglihatanku, serta darahku, dagingku, tulang-tulangku dan urat syarafku, semua untuk Allah Rabb semesta alam”.

Ketujuh pada sholat malam membaca:
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَة

“Maha Suci Dzat yang memiliki Jabarut dan Malakut dan memiliki kedigdayaan dan keagungan”.

Kedelapan
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Maha Suci Engkau, segala puji bagi Engkau. Tidak ada Tuhan selain Engkau”.

Kesembilan
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau”.

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

TAAWWUDZ

 TAAWWUDZ

Pertama:
أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim

“aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”

Kedua:
أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيم

"a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim"

“aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk”

Ketiga:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِه

a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim wa hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi

“aku memohon perlindungan kepada Allah, dari setan yang terkutuk yaitu dari gangguannya, kesombongannya dan sya’irnya”

Keempat:
أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِه

a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/

“aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk yaitu dari gangguannya, kesombongannya dan sya’irnya”.

Kelima:
أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

“a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim, innahu huwas samii’ul’alim”

Keenam:
أَسْتَعِيْذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

“asta’iidzu billahi minas syaithaanirrajiim”

“aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”

Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

ISTIFTAH

—◈❂◉❖ *﷽* ❖◉❂◈—

╭────• ༄༂ •~~──╮⁣⁣

       * "ISTIFTAH"*

╰────• ༄༂ •~───╯⁣⁣

Pertama:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin”

Kedua:
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan ku akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu”

Ketiga:
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”.

Keempat:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”.

Kelima:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau.

Keenam:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

3x لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

3x اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (3x), Allah Maha Besar (3x)”

Ketujuh:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang”

Kedelapan :
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya”

Kesembilan :
اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau”

Kesepuluh:
اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki”

Kesebelas:

10x الله اكبر

10x الحمد لله

10x لا اله الا الله

10x استغفر الله

10x اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ،وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي

10x اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ

“Allah Maha Besar” 10x
“Segala pujian bagi Allah” 10x
“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” 10x
“Aku memohon ampun kepada Allah” 10x
“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesehatan” 10x
“Ya Allah, aku berlindung dari kesempitan di hari kiamat” 10x.

Kedua Belas:
اللَّهُ أَكْبَرُ، ذُو الْمَلَكُوتِ، وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Allah Maha Besar. Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan”


Janga lupa Download BekalIslam di Appstore : https://apps.apple.com/id/app/bekal-islam/id1481297820 dan Playstore : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

Rabu, 30 Juni 2021

HUKUM SEPUTAR NYANYIAN



وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ 
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Apakah yang dimaksud dengan لَهْوَ الْحَدِيثِ? Secara umum maka ada dua pendapat.
Pendapat pertama: Bermakna umum, sehingga لَهْوَ الْحَدِيثِ mencakup semua perkataan yang memalingkan dari jalan Allah ﷻ.
Pendapat kedua: Bermakna khusus, sehingga لَهْوَ الْحَدِيثِ adalah perkataan tertentu. Apa yang dimaksud dengan perkataan tertentu tersebut? Datang beberapa riwayat yang menjelaskan hal tersebut.
1. الغِنَاءُ (Nyanyian)
 Pendapat ini adalah pendapat mayoritas salaf, diantara mereka adalah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang kedua sahabat ini merupakan ahli tafsir di kalangan sahabat. Oleh karenanya para ahli tafsir setelah mereka mengikuti pendapat ini, seperti Mujahid, Ikrimah, Atho’ Al-Khurosani, Ibrahim An-Nakho’i, dan yang lainnya bahkan hampir seluruh salaf. 
 Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang tafsir dari لَهْوَ الْحَدِيثِ maka beliau bersumpah sebanyak tiga kali dengan mengatakan,
الْغِنَاءُ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ 
“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang disembah selainNya, itu adalah nyayian.”(10)
2. Sebagian salaf lainnya menafsirkan لَهْوَ الْحَدِيثِ dengan syirik.
3. لَهْوَ الْحَدِيثِ adalah perbuatan An-Nadhar bin Al-Harits. 
 Disebutkan bahwa ia membeli buku-buku cerita tentang orang-orang selain Arab, seperti cerita-cerita orang Romawi, kaisar-kaisar, raja-raja Persia dan yang lainnya. Buku-buku tersebut ia beli dengan harga yang mahal dari tokoh-tokoh Yunani, kemudian ia bawa buku-buku tersebut ke Makkah. Ketika itu jika Nabi ﷺ ingin menyampaikan sesuatu (berceramah), maka An-Nadhar bin Al-Harits memalingkan manusia dari Nabi ﷺ  kepada dirinya dengan menceritakan cerita-cerita yang ada pada buku yang ia miliki tersebut.
4. لَهْوَ الْحَدِيثِ adalah perbuatan sebagian orang membeli budak-budak wanita para penyanyi. 
 Hal tersebut dilakukan untuk memalingkan manusia dari Nabi ﷺ. Saat itu ketika datang orang-orang ingin mendengarkan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ, maka dipalingkanlah mereka kepada nyanyian budak-budak tersebut. (11)


Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya menyimpulkan bahwa berdasarkan pendapat-pendapat yang ada, maka kita tidak bisa untuk merajihkan salah satu dari yang lainnya. Sehingga menurut beliau لَهْوَ الْحَدِيثِ di sini bersifat umum, khilaf yang terjadi adalah khilaf tanawwu’ (yaitu hanya berbeda sudut pandang dalam memberikan contoh, akan tetapi semua contoh tersebut benar dan tidak ada kontradiksi), sehingga makna لَهْوَ الْحَدِيثِ mencakup seluruh tafsiran-tafsiran yang ada.(12) Dan inilah pendapat yang benar menurut penulis, sebab seluruh tafsiran tentang لَهْوَ الْحَدِيثِ tertuju pada satu makna yaitu menyesatkan dan memalingkan manusia dari jalan Allah ﷻ.
 Sebab yang memperkuat makna لَهْوَ الْحَدِيثِ mencakup umum adalah Allah ﷻ menggunakan lafal أُولَٰئِكَ “mereka”, yang berarti maknanya mencakup seluruh orang-orang yang memalingkan manusia dari jalan Allah ﷻ. Di awal ayat Allah ﷻ mengatakan وَمِنَ النَّاسِ “di antara manusia”. Ini mengesankan bahwa yang dimaksud ayat hanyalah satu, dua atau sebagian saja. Akan tetapi ketika Allah ﷻ berbicara tentang hukum, Allah ﷻ menggunakan lafal أُولَٰئِكَ “mereka” yaitu lafal plural, sehingga mencakup seluruh orang yang menempuh berbagai metode yang menyesatkan manusia dari jalan Allah ﷻ.

Hukum الغِنَاءُ (nyanyian)
Sebelum membahas apa hukum dari nyanyian, maka penulis ingin menjelaskan perbedaan antara nyanyian, musik dan syair. Sebab kita mendapatkan ada sebagian orang yang salah paham tentang ketiga perkara ini. Mereka mengiaskan nyanyian dengan musik ataupun syair, sehingga menjadi tercampur dan rancu, tidak bisa membedakan mana nyanyian, mana musik dan mana syair. Padahal ketiga perkara tersebut adalah hal yang berbeda.
1. Hukum Musik 
Berkaitan dengan musik maka sepakat semua ulama mazhab bahwa musik adalah haram, kecuali hanya sebagian ulama seperti Ibnu Hazm rahimahullah yang mengatakan bahwa musik tidak haram. Hal ini karena beliau mendhoifkan hadits yang ada dalam Shahih Bukhari tentang haramnya musik. Dan ini telah dibantah oleh para ulama. Bahkan sebagian ulama ada yang sangat keras dalam membantah. Diantaranya adalah seperti Al-Alusi rahimahullah dalam tafsirnya, ia mengatakan,
ابْنُ حَزْمٍ الضَّالُ المُضِلُّ
“Ibnu Hazm adalah orang yang sesat dan menyesatkan.”(13)
 Tentu penulis tidak setuju dengan pernyataan al-Aluusi ini, akan tetapi yang lebih tepat bahwa Ibnu Hazm rahimahullah dalam masalah ini beliau salah karena beliau menyelisihi para ahli hadits yang menshahihkan hadits tentang haramnya musik.  Hadits tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ، وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ
“Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.”(14)
 Juga di antara ulama yang paling keras dalam mengharamkan musik adalah ulama-ulama mazhab Syafi’i, seperti Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah. Beliau berkata ketika ingin menegaskan bahwa tidak ada khilaf dalam masalah ini,
وَمَنْ حَكَى فِيْهِ خِلَافًا فَقَدْ غَلَطَ أَوْ غَلَبَ عَلَيْهِ هَوَاهُ، حَتَّى أَصَمَّهُ وَأَعْمَاهُ، وَمَنَعَهُ هَدَاهُ، وَزَلَّ بِهِ عَنْ سُنَنِ تَقْوَاهُ
“Barang siapa yang mengatakan bahwa ada khilaf dalam masalah ini sungguh ia telah salah atau ia telah dikuasai oleh hawa nafsunya sampai membuat ia tuli dan buta, sehingga dirinya terhalang dari petunjuk, dan tergelincir dari kebiasaan takwanya.”(14)
 Juga di antara ulama yang paling keras dalam mengharamkan musik adalah ulama-ulama mazhab Syafi’i, seperti Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah. Beliau berkata ketika ingin menegaskan bahwa tidak ada khilaf dalam masalah ini,
وَمَنْ حَكَى فِيْهِ خِلَافًا فَقَدْ غَلَطَ أَوْ غَلَبَ عَلَيْهِ هَوَاهُ، حَتَّى أَصَمَّهُ وَأَعْمَاهُ، وَمَنَعَهُ هَدَاهُ، وَزَلَّ بِهِ عَنْ سُنَنِ تَقْوَاهُ
“Barang siapa yang mengatakan bahwa ada khilaf dalam masalah ini sungguh ia telah salah atau ia telah dikuasai oleh hawa nafsunya sampai membuat ia tuli dan buta, sehingga dirinya terhalang dari petunjuk, dan tergelincir dari kebiasaan takwanya.”(15)
 Dari sini kita dapat mengetahui bahwa sepakat para ulama mengharamkan musik. Terlebih lagi ulama-ulama bermazhab Syafi’i mereka sangat keras dalam masalah ini. Adapun yang dibolehkan para ulama adalah Duf, itu pun hanya di acara tertentu seperti walimah, ied dan semisalnya. 
2. Hukum Syair
 Adapun hukum syair seperti lantunan para penaik tunggangan, lantunan untuk menghilangkan keletihan, lantunan Al-Hida’ (untuk menyemangati unta ketika safar), maka para ulama sepakat hukumnya adalah boleh. Ibnu Abdi Barr rahimahullah berkata, 
وَهَذَا الْبَابُ مِنَ الْغِنَاءِ قَدْ أَجَازَهُ الْعُلَمَاءُ وَوَرَدَتِ الْآثَارُ عَنِ السَّلَفِ بِإِجَازَتِهِ وَهُوَ يُسَمَّى غِنَاءَ الركبان وغناء النصب والحداء هَذِهِ الْأَوْجَهُ مِنَ الْغِنَاءِ لَا خِلَافَ فِي جَوَازِهَا بَيْنَ الْعُلَمَاءِ.... لَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا بَيْنَ الْعُلَمَاءِ إِذَا كَانَ الشِّعْرُ سَالِمًا مِنَ الْفُحْشِ وَالْخَنَى
وَأَمَّا الْغِنَاءُ الَّذِي كَرِهَهُ الْعُلَمَاءُ فَهَذَا الْغِنَاءُ بِتَقْطِيعِ حُرُوفِ الْهِجَاءِ وَإِفْسَادِ وَزْنِ الشِّعْرِ وَالتَّمْطِيطِ بِهِ طَلَبًا لِلَّهْوِ وَالطَّرَبِ وَخُرُوجًا عَنْ مَذَاهِبِ الْعَرَبِ
“Dan ini adalah sebagian bentuk dari nyanyian yang dibolehkan oleh para ulama. Telah datang atsar-atsar dari salaf membolehkannya yaitu nyanyian yang disebut dengan nyanyian perjalanan, nyanyian untuk menghilangkan keletihan dan nyanyian Al-Hida’ (nyanyian untuk menyemangati unta). Tidak ada khilaf di kalangan ulama atas kebolehannya mengenai hal ini…
Aku tidak tahu ada khilaf pada masalah ini di kalangan ulama jika syairnya selamat dari perkataan-perkataan yang buruk dan kotor.
Adapun nyanyian yang dibenci para ulama adalah nyanyian dengan memotong-motong huruf hijaiyyah dan merusak aturan atau timbangan syair dengan memanjang-manjangkan dalam rangka mencari kesenangan, maka ini adalah bentuk keluar dari tradisi orang-orang Arab.” (16)
 Maka dari sini kita dapat mengetahui bahwa hukum dari musik adalah haram dan hukum dari syair adalah boleh. 
3. Hukum الغِنَاءُ (Nyanyian)
 Adapun الغِنَاءُ, maka sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullah الغِنَاءُ adalah nyanyian yang dipanjang-panjangkan. Pada zaman sekarang ini dapat kita katakan seperti nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan tanpa musik, maka ada khilaf di kalangan ulama.
 Adapun الغِنَاءُ, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullah maka bisa dikatakan bahwa الغِنَاءُ pada zaman ini adalah nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan tanpa musik. Pada hal ini maka ada khilaf di kalangan ulama.
Pendapat pertama: Haram secara mutlak. 
Ini adalah dzohir dari pendapat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bersumpah bahwa yang dimaksud dengan “perkataan sia-sia” adalah nyanyian.
Pendapat kedua: Boleh sesekali, tidak dijadikan sebagai profesi. 
Pendapat ketiga: Makruh. 
 Pendapat ini dipilih oleh Imam Syafi’i rahimahullah. Ketika memilih pendapat ini, Imam Syafi’i juga melarang menjadikan lantunan nasyid sebagai profesi. Jika dijadikan sebagai profesi maka persaksian orang tersebut ditolak menurut Imam Syafi’i rahimahullah.
 Imam Syafi’i rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Umm, 
فِي الرَّجُلِ يُغَنِّي فَيَتَّخِذُ الْغِنَاءَ صِنَاعَتَهُ يُؤْتَى عَلَيْهِ وَيَأْتِي لَهُ، وَيَكُونُ مَنْسُوبًا إلَيْهِ مَشْهُورًا بِهِ مَعْرُوفًا، وَالْمَرْأَةُ، لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا؛ وَذَلِكَ أَنَّهُ مِنْ اللَّهْوِ الْمَكْرُوهِ الَّذِي يُشْبِهُ الْبَاطِلَ، وَأَنَّ مَنْ صَنَعَ هَذَا كَانَ مَنْسُوبًا إلَى السَّفَهِ وَسُقَاطَة الْمُرُوءَةِ، وَمَنْ رَضِيَ بِهَذَا لِنَفْسِهِ كَانَ مُسْتَخِفًّا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُحَرَّمًا بَيِّنَ التَّحْرِيمِ.
“Tentang lelaki dan wanita yang bernyanyi dan menjadikannya sebagai pekerjaannya, maka persaksian salah satu dari keduanya tidak diterima. Sebab nyanyian merupakan suatu perkara yang sia-sia yang dibenci dan mirip dengan kebatilan. Dan barang siapa melakukan hal ini maka ia disandarkan kepada kebodohan dan terjatuh harga dirinya. Dan barang siapa yang ridha akan hal ini (menjadikan nyanyian sebagai pekerjaannya) maka ia telah merendahkan dirinya, meskipun keharamannya tidak jelas haram.”
 Imam syafi’i rahimahullah juga berkata,
فَأَمَّا اسْتِمَاعُ الْحِدَاءِ وَنَشِيدِ الْأَعْرَابِ فَلَا بَأْسَ بِهِ قَلَّ أَوْ كَثُرَ، وَكَذَلِكَ اسْتِمَاعُ الشِّعْرِ
“Adapun mendengar Al-Hida’ (lantunan untuk menyemangati unta) dan nasyid orang Arab baduwi, maka sedikit atau banyak tidak mengapa. Begitu juga mendengar syair.”(17)
Adapun mengenai alat musik maka Imam Syafií dalam kitabnya al-Umm dalam bab washiat berkata:
وَإِنْ كان لَا يَصْلُحُ إلَّا لِلضَّرْبِ بَطَلَتْ عِنْدِي الْوَصِيَّةُ وَهَكَذَا الْقَوْلُ في الْمَزَامِيرِ كُلِّهَا
“Jika Al-Uud (kayu gitar yang dimaksud oleh pewashiat) tidak dapat digunakan, kecuali untuk dimainkan (semacam gitar, -pen) maka washiatnya batal menurutku. Demikian juga pembicaraan mengenai seluruh jenis seruling (alat musik).”(18)
Al-Imam Asy-Syafi’i juga berkata mengenai hukum potong tangan bagi pencuri:
فَكُلُّ ما له ثَمَنٌ هَكَذَا يُقْطَعُ فيه إذَا بَلَغَ قِيمَتُهُ رُبُعَ دِينَارٍ مُصْحَفًا كان أو سَيْفًا أو غَيْرَهُ مِمَّا يَحِلُّ ثَمَنُهُ فَإِنْ سَرَقَ خَمْرًا أو خِنْزِيرًا لم يُقْطَعْ لِأَنَّ هذا حَرَامُ الثَّمَنِ وَلَا يُقْطَعُ في ثَمَنِ الطُّنْبُورِ وَلَا الْمِزْمَارِ
“Maka segala barang yang berharta menyebabkan dipotong tangan sang pencuri jika harga barang tersebut mencapai seperempat dinar. Barang tersebut baik mushaf (Al-Qur’an), pedang atau hal lainnya yang halal hasil penjualannya. Jika ia mencuri khamr atau babi maka tidaklah dipotong tangannya karena hasil penjualan khamr dan babi adalah haram. Selain itu, sang pencuri juga tidak dipotong tangan jika mencuri tunbur (kecapi/rebab) dan mizmar (seruling).”(19)
Sangat jelas bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i menyamakan hukum alat musik sama seperti hukum khamr, sama-sama haram, dan tidak halal hasil penjualannya. Oleh karena itu, jika ada pencuri yang mencuri barang-barang haram ini maka tidaklah dipotong tangannya. 
Al-Imam Asy-Syafi’i juga berkata mengenai hukum di antara orang-orang kafir ahli al-jizyah:
وَلَوْ كَسَرَ له طُنْبُورًا أو مِزْمَارًا أو كَبَرًا... وَإِنْ لم يَكُنْ يَصْلُحُ إلَّا لِلْمَلَاهِي فَلَا شَيْءَ عليه وَهَكَذَا لو كَسَرَهَا نَصْرَانِيٌّ لِمُسْلِمٍ أو نَصْرَانِيٌّ أو يَهُودِيٌّ أو مُسْتَأْمَنٌ أو كَسَرَهَا مُسْلِمٌ لِوَاحِدٍ من هَؤُلَاءِ أَبْطَلْت ذلك كُلَّهُ
“Kalau seandainya ia menghancurkan kecapi, seruling, atau gendang… maka jika benda-benda ini tidak dapat digunakan, kecuali sebagai alat musik maka tidak ada sesuatu yang harus ia ganti rugi. Demikian pula jika seorang muslim yang merusak (kecapi dan seruling) milik seorang muslim atau yang merusak adalah seorang Nasrani atau seorang Yahudi atau seorang kafir musta’man, atau seorang muslim lain yang telah merusak salah satu dari benda-benda tersebut maka semuanya dianggap batil (tidak perlu diganti rugi, -pen)”(20)
Lihatlah, bahkan menurut Imam Asy-Syafi’i jika yang melakukan pengrusakan adalah seorang yang kafir terhadap alat-alat musik milik seorang muslim maka sang kafir tidak perlu menanggung biaya ganti rugi.
 Dari sini, kita tahu bahwa Imam Syafi’i pun membedakan antara tiga hal di atas, yaitu musik, syair, dan الغِنَاءُ (nyanyian). Musik beliau rahimahullah katakan haram, syair beliau rahimullah katakan boleh, sedikit atau banyak. Sebab syair merupakan suatu perkara yang mubah. Adapun الغِنَاءُ (nyanyian) beliau rahimahullah katakan makruh. 

 Firman Allah ﷻ,
لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ 
“Untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.”
 Kenyataan yang terjadi memang musik sangat melalaikan dari beribadah kepada Allah ﷻ. 
 Firman Allah ﷻ,
“Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”
 Pada ayat ini, Allah ﷻ ancam mereka dengan azab yang pedih. Walaupun sebenarnya konteks ayat ini berbicara tentang orang-orang kafir pada saat itu, akan tetapi ancaman ini bisa kita bawakan kepada seluruh tafsiran tentang orang-orang yang mengambil لَهْوَ الْحَدِيثِ sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Sebab sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaidah yang masyhur,
العِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
“Yang menjadi patokan adalah keumuman lafal bukan kekhususan sebab.”
 Intinya barang siapa yang meniru perbuatan mereka, maka ia akan dapat bagian dari keharaman tersebut. Mungkin hukumannya berbeda, akan tetapi sama-sama terjerumus dalam keharaman karena meniru akhlak mereka yang buruk. Oleh karenanya Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan para salaf menafsirkan لَهْوَ الْحَدِيثِ dengan الغِنَاءُ (nyanyian). Catatan Kaki 10. Tafsir At-Thobari 18/534. 
Demikian juga Ibnu Ábbas berkata, هُوَ الْغِنَاءُ وَنَحْوُهُ “Dia adalah nyanyian dan semisalnya” (Tafsir At-Thobari 18/535). Demikian juga Jabir berkata, هُوَ الْغِنَاءُ وَالِاسْتِمَاعُ لَهُ “Itu adalah nyanyian dan mendengarkannya”(Tafsir At-Thobari 18/536), dan ini juga pendapat Íkrimah, Saíid bin Jubair, Mujahid, Qotadah, An-Nakhoí, Al-Hasan, dan Makhuul (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/331 dan Zaadul Masiir 3/430).
Al-Hasan berkata, لَهْوُ الْحَدِيثِ الْمَعَازِفُ وَالْغِنَاءُ “Lahwul hadits adalah alat musik dan nyanyian”(Tafsir al-Qurthubi 14/52 dan Tafsir Ibnu Katsir 6/331)
Meskipun ada tafsiran lain dari lahwul hadits selain dari nyanyian akan tetapi semua ahli tafsir sepakat bahwa nyanyian dan yang semisalnya termasuk dari keumuman lahwul hadits. (lihat Tafsir At-Thobari 18/539). Al-Qurthubi berkata,
هَذَا أَعْلَى مَا قِيلَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ، وَحَلَفَ عَلَى ذَلِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ بِاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِنَّهُ الْغِنَاءُ.
  “Dan ini (yaitu lahwul hadits adalah nyanyian) merupakan pendapat yang tertinggi tentang ayat ini, dan Ibnu Masúd telah bersumpah tiga kali dengan nama Allah yang tidak ada sesembahan selainnya  bahwa itu adalah nyanyian”(Tafsir Al-Qurthubi 14/52)
As-Syaukani berkata, 
وَهُوَ قَوْلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ
“Dan ini adalah pendapat para sahabat dan tabiín”(Fathul Qodiir 4/270)11. Lihat Tafsir Al-Qurthubi 14/5212. Lihat Tafsir Al-Qurthubi 14/5313. Tafsir Ruh Al-Ma’ani, 11/7514. HR. Bukhari No. 559015. Kaffu Ar-Ri’aa’, 1/11816. At-Tamhid Libni Abdil Barr  22/197-19817. Al-Umm, 6/22618. Al-Umm 4/9219. Al-Umm 6/14720. Al-Umm 4/212Tafsir At-Taysir


(Luqman:6)